Pesawat mulai menanjak, jendela kabin menampilkan awan lembut yang berkilau diterpa matahari sore. Vivienne duduk di samping Jeremi, matanya masih memelototi layar hiburan dalam kabin, bingung sekaligus penasaran. “Jeremi… ini kan seharusnya kita pulang ke Jakarta, kan?” tanya Vivienne, menatapnya dengan mata setengah curiga. Jeremi menoleh, senyum misterius terukir di wajahnya. “Sayang… aku tahu kau lelah setelah bulan madu kita di Maldives… jadi aku pikir, kenapa nggak kita sambung sedikit petualangan kita?” Vivienne mengerutkan alisnya. “Petualangan? Maksudmu…?” Jeremi menatap matanya, sambil menahan tawa kecil. “Kita nggak pulang ke Jakarta dulu… aku punya kejutan untukmu. Kita akan ke Jepang! Kau pasti suka, Sayang.” Vivienne tercengang, bibirnya terbuka tapi tak bersuara. “Jepan

