Hujan deras mengguyur kota malam itu, menghapus setiap cahaya yang seharusnya memantul dari lampu-lampu jalan. Di gudang tua yang berdiri di pinggiran kota itu, suara air yang menetes dari atap rusak berpadu dengan desahan pelan seorang wanita yang hampir kehilangan kekuatan untuk bernapas. Rosalinda duduk bersandar di kursi kayu yang lapuk, tangan dan kakinya masih terikat kuat. Bibirnya pecah, wajahnya pucat, dan rambutnya menempel di wajahnya karena keringat dingin. Sudah tiga hari berlalu sejak ia diculik. Tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada belas kasih. Ully hanya sesekali datang, menatapnya seperti menatap musuh yang paling dibenci, tanpa sepatah kata pun yang memberi harapan. Rosalinda mencoba menahan air mata, tapi tubuhnya sudah terlalu lemah untuk sekadar menangis. “Ull

