Vivienne menutup pintu rumah dengan lembut, namun langkah kakinya cepat menapak di lantai kayu ruang tengah. Aroma teh hangat dan wangi kue kering masih tersisa dari sore tadi, memberi kesan hangat yang membuat hatinya sedikit lega. Ia menatap kedua orang tuanya, Nancy dan Vincent, yang sedang duduk bersebelahan di sofa panjang. Wajah mereka terlihat tenang, namun ada senyum samar yang menyambut putri mereka. “Papa… Mama…” sapanya pelan, suaranya terdengar lembut tapi tegas. Nancy menoleh, matanya berbinar. “Vivienne sayang, kamu baru pulang dari mana? Bagaimana fitting gaun pengantin tadi?” Vivienne menghela napas panjang, menenangkan dirinya sejenak. “Semua lancar, Mama. Tapi… aku mau tanya…” Ia menatap Vincent, lalu Nancy, menanyakan sesuatu yang sudah mengganjal di hatinya. “Nayla d

