Sore itu, setelah kencan manis mereka, Jeremi menyetir pelan memasuki halaman rumah keluarga Vincent. Mobil berhenti dengan tenang di depan pintu utama, sementara Vivienne yang duduk di sampingnya masih tampak tersenyum kecil. Hari itu mereka benar-benar melepas lelah dari segala keribetan persiapan pernikahan. “Terima kasih untuk hari ini, Jem. Rasanya aku bisa bernapas lagi,” ucap Vivienne sambil memandang Jeremi dengan mata berbinar. Jeremi menoleh sekilas padanya dan tersenyum lembut. “Aku yang harus bilang terima kasih, Vi. Kamu sudah mau meluangkan waktu meski aku tahu kepalamu masih penuh dengan urusan undangan dan dekorasi. Setidaknya sekarang kamu bisa tersenyum lagi.” Vivienne mengangguk, lalu tertawa kecil. “Aku memang mudah stres, ya?” “Kamu bukan mudah stres, tapi terlalu

