Valiant duduk di kursi pojok salah satu kafe bergaya minimalis. Matanya terus menatap keluar jendela, mengamati orang-orang berlalu-lalang. Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi yang sudah mulai kehilangan panasnya, sementara napasnya berat, seolah ada beban besar yang ia pikul. Tadi sebelum berangkat, ia sempat berdiri cukup lama di depan Rosalinda. Gadis itu tersenyum polos saat ia berpamitan, dan ia hanya bisa mengatakan sedang ada urusan bisnis dengan klien penting. Tidak mungkin ia berkata sejujurnya bahwa malam ini ia hendak bertemu Ully, seorang masa lalu yang seharusnya sudah terkubur. Ketika pintu kafe terbuka, langkah cepat Ully masuk membuat Valiant langsung menegakkan tubuh. Wanita itu tampak letih, wajahnya sayu, perutnya sudah membesar jelas. Beberapa orang sempat menoleh

