Keesokan harinya, Vivienne melangkah perlahan menuju apartemen Jeremi, hatinya masih campur aduk. Ia takut menghadapi Jeremi setelah pertengkaran beberapa hari terakhir, tapi juga ingin menjernihkan semuanya. Pikirannya dipenuhi rasa cemas sekaligus harapan. Begitu pintu apartemen terbuka, Jeremi berdiri di ruang tamu, wajahnya serius tapi penuh kekhawatiran. Begitu melihat Vivienne, matanya bersinar, tapi senyumnya tetap tipis menahan amarah yang mungkin timbul karena kecemasan. "Vivienne… kamu datang. Aku… aku khawatir semalam," Jeremi memulai, suaranya lembut tapi tegang. Vivienne menunduk, suaranya pelan. "Jeremi… aku… aku minta maaf kalau aku marah-marah. Aku cuma takut… takut kehilanganmu." Jeremi melangkah lebih dekat, menatap mata Vivienne penuh perhatian. "Sayang… dengar aku b

