Valiant mengendarai mobil mewahnya melintasi jalan-jalan Jakarta yang ramai. Rosalinda duduk di sampingnya, tangan masih tergenggam erat oleh Valiant, meski hatinya terasa sesak dan gelisah. Ia menatap pemandangan di luar jendela, gedung-gedung tinggi, lampu kota, dan keramaian yang terasa begitu berbeda dari Paris yang selama ini menjadi rumahnya. Rasa gugup semakin menggumpal di dadanya. “Valiant… aku… aku takut,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar di atas suara mesin mobil. Valiant menoleh, menatap matanya dengan lembut. “Rosalinda, aku tahu ini berat bagimu. Tapi kau harus percaya padaku. Papa, Mama, dan Vivienne… mereka akan melihat siapa dirimu sebenarnya. Mereka akan melihat hatimu, bukan asal usulmu atau masa lalumu. Kau tidak perlu takut.” Rosalinda menunduk, menarik napas pa

