Malam itu di bukit Paris, setelah Valiant melamar Rosalinda dan gadis itu menerima, udara terasa begitu hangat meski angin malam berhembus lembut. Lampu-lampu kecil di pepohonan berpendar lembut, memantulkan cahaya pada wajah mereka. Rosalinda masih terpaku, menatap cincin di tangannya dengan mata berkaca-kaca. Valiant menatapnya penuh kelembutan, senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Keesokan harinya, mereka memulai hari dengan suasana ringan. Valiant ingin momen ini menjadi kenangan tak terlupakan bagi Rosalinda. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di Montmartre, mengamati kafe-kafe cantik yang dipenuhi aroma kopi dan roti panggang. Valiant membeli croissant hangat untuk Rosalinda dan menyerahkannya sambil tersenyum. “Untuk sarapan sederhana kita,” ucapnya ringan. Rosali

