Valiant menutup ponselnya setelah berbicara dengan Nancy, lalu ia berjalan mondar-mandir di kamar hotel. Pikirannya penuh dengan satu bayangan: Rosalinda. Gadis itu yang membuatnya bertahan di Paris, yang membuatnya rela meninggalkan semua kenyamanan rumah di Jakarta, bahkan rela menghadapi penolakan berkali-kali. Kini setelah mendapat restu dari Mama, Valiant merasa langkahnya harus lebih besar. Ia duduk di kursi kerja hotel dan membuka laptop. Jari-jarinya mulai mengetik di kolom pencarian: *“cara melamar wanita dengan romantis”*. Muncullah ribuan hasil pencarian, dari artikel, blog, hingga video. Valiant membacanya satu per satu dengan serius. Ada yang menyarankan lamaran sederhana di taman bunga, ada yang menyarankan dinner mewah dengan cincin di dalam gelas wine, ada juga yang menyar

