Paris malam itu terasa berbeda bagi Valiant. Lampu-lampu jalan berkilau, udara dingin menusuk tulang, tetapi hatinya hangat karena duduk berdua dengan Rosalinda di sebuah taman kecil dekat sungai Seine. Gadis itu tampak sederhana, mengenakan sweater tipis warna abu-abu yang sudah terlihat lama dipakai, tetapi matanya menyimpan sorot yang kuat. Percakapan mereka semakin dalam. Rosalinda akhirnya membuka diri, bercerita tentang masa kecilnya yang penuh kesepian. Ia berkata tanpa nada manja, tanpa berharap dikasihani, hanya sekadar menyampaikan kenyataan hidupnya. “Aku dibesarkan di panti asuhan sejak bayi. Aku tidak tahu siapa orang tuaku. Tidak ada nama, tidak ada alamat, tidak ada petunjuk apa pun. Selama 22 tahun aku hidup tanpa keluarga.” Valiant terdiam sesaat, menatapnya lekat-lekat.

