Begitu pintu terbuka, Kenzo langsung masuk sambil melepas sepatu dengan tergesa. Langkahnya cepat menuju ruang tengah, tapi matanya menyapu sekeliling dengan cemas. "Zeya?" panggilnya. Zeya muncul dari arah dapur sambil membawa gelas air putih. Tatapannya datar. "Aku di sini." Kenzo menghampiri cepat. "Kamu pulang sendiri? Kenapa nggak nunggu aku? Aku udah turun ke lobi nyari kamu, telpon juga nggak diangkat." "Aku naik taksi," sahut Zeya singkat tanpa menatapnya. "Nggak usah ribet, deh." Kenzo langsung mematung di tempat. “Naik taksi?” ulangnya, kaget. “Sayang, kamu hamil. Kenapa nggak bilang dulu?” Zeya hanya meneguk air dan duduk santai di sofa. “Biar nggak ganggu agenda dokter Kenzo.” Kenzo menghela napas, duduk di hadapan istrinya. “Zeya, aku serius. Kamu itu istriku, aku panik

