Senja perlahan turun di Prambanan. Langit berwarna jingga keemasan, cahaya matahari terakhir menyapu relief candi yang menjulang anggun—kokoh, sunyi, dan penuh sejarah. Angin sore bertiup pelan, membawa aroma rumput dan tanah basah yang entah mengapa terasa begitu akrab di d**a Alea. Ia duduk terpaku beberapa detik setelah mendengar kata-kata Bram. Jantungnya berdebar bukan main. Bukan karena kejutan semata, tapi karena kejujuran di dalam suara pria di hadapannya—jujur, tanpa paksaan, tanpa janji kosong. Bram menatapnya dengan tenang. Tidak ada sikap berlebihan. Tidak ada drama. Hanya sorot mata yang dalam, matang, dan penuh keyakinan—tatapan seorang pria yang telah kehilangan, hampir mati, lalu memilih kembali dengan kesadaran penuh. Alea menarik napas perlahan. “Mas,” suaranya kel

