Bab 158. Pulang Kampung

2020 Kata

Keesokan pagi, udara Jakarta terasa lebih segar dari biasanya. Langit cerah, matahari naik perlahan, seolah ikut mengantarkan perjalanan yang sudah lama tertunda. Di halaman mansion, dua mobil hitam terparkir rapi. Bagasi terbuka, koper-koper tersusun, dan suasana rumah dipenuhi gerak kecil yang sibuk tapi hangat—tidak tergesa, tidak panik. Bram berdiri di dekat pintu, satu tangannya memegang koper milik Alea. “Lea,” tanyanya sambil melirik ke arah Alea yang sedang memeriksa tas bayi besar di pundaknya, “sudah dipastikan nggak ada yang ketinggalan?” Alea menoleh sekilas, lalu kembali mengecek isi tas—popok, baju ganti, botol air hangat, selimut kecil Alan. “Kayaknya udah semuanya, Pak,” jawabnya tenang. “Kalau pun nanti ada yang ketinggalan, tinggal beli di sana. Yang penting keper

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN