Ruang observasi kembali tenggelam dalam sunyi setelah pintu tertutup di belakang Bram. Tidak ada langkah kaki yang menyusul. Tidak ada suara kursi ditarik. Tidak ada tangan yang kembali menggenggam. Yang tersisa hanyalah dengung mesin pendingin ruangan, detak monitor jantung yang ritmis, dan napas Rere yang terasa berat di dadanya sendiri. Rere menatap kosong ke arah pintu. Tangannya yang tadi sempat terulur kini kembali tergeletak di atas selimut, jari-jarinya kaku. Wajahnya tetap tenang di permukaan, tapi di dalam dadanya, sesuatu runtuh pelan—seperti dinding yang lama menahan beban, lalu retak tanpa suara. Ia menarik napas panjang, namun rasa sesak itu tidak ikut pergi. Dia benar-benar pergi .… Bukan hanya pergi sebentar. Tapi pergi dengan sikap dingin. Dengan jarak. Dengan tatapa

