Bab 107. Hati Seorang Ibu

1203 Kata

Malam itu, di sebuah rumah sederhana di pinggiran Yogyakarta, Shinta tidak bisa memejamkan mata. Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa menghantam dadanya. Setelah panggilan dari Bude Laksmi terputus begitu saja, kegelisahan Shinta tidak pernah turun—justru semakin naik, menekan, membuat napasnya terasa pendek. Ia duduk di tepi sofa, ponsel masih berada di genggaman. Nama Alea kembali ia tekan. Nada sambung terdengar … satu … dua … lalu terputus. Tidak diangkat. “Ya Allah, kamu ke mana, Nak. Telepon Ibu kok nggak diangkat,” gumamnya lirih. Tangannya bergetar sedikit. Shinta bangkit, berjalan mondar-mandir di ruang sempit itu. Bayangan wajah Alea terus muncul di kepalanya—wajah anak yang sejak kecil lebih sering memendam daripada mengeluh, yang memilih dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN