Bab 68. Maafkan Mama, Alea

1303 Kata

Seharian penuh Mama Linda mengurung diri di kamarnya. Tirai jendela setengah tertutup, membiarkan cahaya sore masuk dengan ragu-ragu. Ia duduk lama di kursi dekat jendela, punggungnya tegak namun bahunya terasa berat. Tangannya sesekali terangkat mengusap d**a, seolah ada sesak yang tak kunjung reda. Kata-kata Bram masih bergema—pengakuan yang mengoyak, kebenaran yang membuatnya sadar bahwa keinginannya sendiri telah menjadi mata rantai dari penderitaan perempuan lain. Alea. Nama itu berulang-ulang terlintas, membawa rasa malu yang menusuk. Sebagai seorang ibu, sebagai seorang perempuan, ia merasa gagal. Ingin rasanya langsung menemui Alea, memeluknya, meminta maaf. Namun kakinya terasa berat. Ada rasa tak pantas—seolah wajahnya tak layak ditunjukkan pada perempuan yang telah ia sakiti,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN