Suara monitor di ruang ICU terus berdetak teratur, menjadi satu - satunya pengingat bahwa kehidupan Disti masih bertahan. Bunyi itu, yang seharusnya membuat tenang, justru menjadi irama yang menyayat hati bagi Dharren. Wajahnya letih, mata sembab karena begadang tiga hari tanpa henti dan tangisannya untuk Disti. Rambutnya berantakan, janggut tipis mulai tumbuh karena ia tak peduli lagi pada penampilan, tapi ia tetaplah Dharren keturunan Mahendra yang sudah tampan dari lahir. Kini satu - satunya yang ia pedulikan hanyalah perempuan yang terbaring di hadapannya, istrinya, separuh jiwanya. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Disti yang dingin. Kadang ia mengusapnya perlahan, seolah berharap sentuhan itu bisa emberi kehangatan dan membangunkan istrinya dari tidur panjangnya. "Sayan

