Kunjungan Gaby

3103 Kata

Keluarga besar masih terus datang silih berganti, seperti arus yang tak pernah putus, untuk menemani Dharren dari luar kamar ICU. Lorong rumah sakit itu seakan tidak pernah benar - benar sepi, ada yang duduk di kursi panjang dengan wajah muram, ada yang memilih berdiri menempel ke dinding, seolah hanya dengan berdiri dekat pintu mereka bisa mendengar kabar lebih cepat. Setiap kali pintu ICU terbuka, kepala - kepala itu serentak menoleh, mata - mata yang penuh harap mencari tanda sekecil apa pun yang bisa memberi mereka kabar baik. Namun hingga hari kedua, tak ada perubahan berarti. Disti masih terbaring lemah, tubuhnya seakan tenggelam di antara selimut putih dan kabel - kabel yang melilit. Matanya tetap terpejam, wajah pucatnya kontras dengan monitor yang tak henti- hentinya berbunyi rit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN