Jarum jam dinding menunjukkan pukul empat sore, tapi waktu terasa begitu lambat bagi keluarga yang baru saja menerima kabar bahwa Adnan akhirnya siuman. Indira duduk di kursi samping ranjang Ian. Wajahnya pucat, tapi ada cahaya syukur di matanya. Sesekali ia menatap putranya yang masih terlelap di ranjang kecilnya, selang infus menempel di tangan mungil Ian. Nafas bocah itu tenang, hanya sesekali mengerutkan kening seakan merengek dalam mimpi. Pintu terbuka, seorang dokter masuk bersama dua perawat. Senyumnya hangat, namun tetap profesional. “Alhamdulillah, kondisi Pak Adnan sudah benar-benar stabil. Beliau masih di ruang ICU, tapi sudah bisa dijenguk. Hanya saja … belum boleh bertemu sekaligus. Bergantian, satu per satu, agar pasien tidak kelelahan.” Indira menelan ludah. Hatinya berge

