Di tempat yang berbeda, jarum jam sudah melewati angka delapan ketika Adnan dan Indira akhirnya beranjak dari meja makan. Restoran mewah itu perlahan mulai lengang, cahaya lilin meredup, dan musik instrumental pun berangsur berhenti. Udara malam Surabaya membawa hawa lembut yang menyentuh kulit, seakan mengiringi langkah mereka menuju parkiran. Alih-alih langsung pulang, Adnan justru mengarahkan langkah ke sisi lain kota. Indira sempat menoleh, alisnya bertaut samar. “Mas … kita mau ke mana?” tanyanya ragu. Adnan hanya tersenyum kecil, kedua matanya memantulkan cahaya lampu jalan. “Sebentar saja, Indi. Aku ingin kita menikmati malam ini sedikit lebih lama. Anggap saja … hadiah kecil setelah semua luka.” Indira terdiam, tidak ingin memecahkan suasana. Ia mencondongkan wajah ke arah j

