Bab 38: Rahasia di Balik Cap Merah Sore itu, pulau terasa begitu tenang. Suara deburan ombak yang ritmis di bawah jendela menjadi lagu pengantar tidur yang sempurna bagi Aditya. Setelah malam yang melelahkan dan penuh pelarian, pria itu akhirnya menyerah pada kantuk. Ia tertidur dengan posisi telungkup, punggungnya yang lebar memperlihatkan bekas-bekas luka lama, sementara lengan yang baru saja dibalut Aurora terkulai lemas di atas bantal. Aurora bangkit dengan sangat pelan, hampir tanpa suara. Ia menarik jubah sutra putihnya, menyampirkan kain dingin itu di atas kulitnya yang masih terasa hangat oleh sentuhan Aditya. Matanya terpaku pada laci nakas yang sedikit terbuka... celah kecil yang sejak tadi menggoda rasa ingin tahunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aurora menarik laci it

