Tangisan Valentina memecah keheningan kamar sore itu. Suaranya tidak keras, namun cukup membuat Kiara yang sedang merapikan lemari langsung membeku sesaat sebelum bergegas menghampiri tempat tidur. Wajah kecil Valentina tampak mengernyit, matanya setengah terpejam, napasnya masih belum sepenuhnya stabil setelah tidur panjang akibat demamnya tadi pagi. “Valen…” suara Kiara lembut, penuh naluri seorang Mommy. Ia duduk di tepi ranjang lalu memeluk tubuh kecil itu ke dadanya. Valentina langsung merapat, tangannya yang mungil mencengkeram baju Kiara kuat-kuat, seolah takut kembali tertinggal dalam mimpi yang tak nyaman. Kepalanya bersandar di bahu Kiara, hidungnya menyusup ke leher Mommy-nya. “Mommy…” gumamnya serak kecil. “Iya sayang, Mommy di sini,” Kiara mengelus punggung Valentina perla

