Pagi itu mansion Albert dipenuhi cahaya lembut yang masuk dari jendela besar ruang keluarga. Albert baru saja selesai minum kopi, duduk di sofa sambil memandang halaman mansion yang tertata rapi. Matanya sedikit mengerut ketika melihat ke arah pintu—Cassandra, menantunya, sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah sembab, mata merah karena menangis. “Daddy…” suara Cassandra gemetar, napasnya tersengal. “Mommy… aku… aku mual terus… bisa tolong buatkan aku minuman herbal?” Albert menatap menantunya itu dengan bingung, lalu senyumnya tipis muncul di wajahnya. “Oh, begitu ya, masuklah dulu, Cassandra. Daddy akan buatkan minuman herbal untuk Mommy. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.” Cassandra mengangguk, menahan tangisnya, dan melangkah masuk. Ia duduk di kursi dekat jendela, se

