Apartemen Aruby terasa lebih hangat dari biasanya. Mungkin karena malam, mungkin juga karena kehadiran Kairav yang kini berdiri di ruang itu. “Aku bikinin kopi, ya,” kata Aruby, suaranya ringan, berusaha terdengar biasa saja meski jantungnya masih belum sepenuhnya tenang. Kairav mengangguk, bersandar santai di meja dapur, memperhatikan Aruby yang bergerak ke arah kabinet. Aruby berjinjit, tangannya terulur mengambil box kopi yang tersimpan di rak paling atas. Ujung jarinya nyaris menyentuh, tapi tetap kurang sejengkal. Belum sempat ia menghela napas kesal, sebuah tangan muncul dari belakangnya—tenang, pasti. Box kopi itu diambil dengan mudah, lalu diletakkan di meja tepat di depan Aruby. Aruby refleks menoleh setengah, hendak mengucapkan terima kasih, tapi kata-katanya tertahan ketika

