Mesin banana boat meraung nyaring, memecah suara ombak yang sejak tadi sudah riuh oleh tawa dan teriakan. Dua banana boat kuning cerah berjajar di bibir pantai, bergoyang-goyang kecil seperti sengaja menantang siapa pun yang naik di atasnya. Seperti yang dikatakan oleh Kairav sebelumnya, bahwa permainan belum usai. Ada yang lebih seru. Dan ini lah yang di maksud oleh pria itu. Banana boats. Bersamaan dengan itu, dua sosok baru muncul dari arah vila—Fano dan Sena—masing-masing membawa tas kecil dengan ekspresi santai seolah tidak merasa ketinggalan apa pun. “Telat gak?” tanya Sena sambil melepas kacamata hitamnya. “Pas banget,” jawab Garvi cepat. “Mau banana boat nih kita.” “Oke,” sahut Fano ringan. “I’m in.” “Gue juga!” tambah Sena. Setelah semua siap, Garvi duduk paling depan, so

