Bab 134. Tak Mudah Menerima Kenyataan Itu

1117 Kata

Edward berlari tergesa-gesa mengejar Kania yang melangkah cepat, napasnya memburu, jantungnya seakan dipelintir oleh kecemasan yang membara. Perut Kania yang semakin membesar bukan hanya menjadi alasan, tapi juga jimat yang selalu mengikat Edward pada kekhawatiran. Namun, hatinya nyaris runtuh saat melihat langkah istrinya tak menuju mobil mereka—melainkan menyusuri jalan besar, matanya penuh gelisah mencari taksi di antara banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. "Kania! Tunggu aku, Sayang," teriak Edward dengan suara serak, menahan tangan istrinya yang tiba-tiba memberhentikan sebuah taksi. Sorot matanya penuh harap dan ketakutan. "Sayang, kamu tidak boleh pergi sendirian." Ia menyerahkan selembar uang merah pada sopir taksi sebagai ganti rugi dan meminta agar segera pergi "Tolong bia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN