"Jagat serius, Mi, Pi." Dihadangnya langkah mereka. "Nggak mengada-ngada." Dengan penuh kesungguhan sorot mata Jagat terarah, berbalas tatapan lamat dari orang tuanya yang dia pandang bergantian. "Jagat udah ngobrol sama Uni. Atau perlu Jagat telepon dia dan Mami-Papi dengerin obrolan kami soal rencana rujuk?" Dapat Jagat lihat langkah papi lengser kembali ke sofa tadi, di ruang tengah, beliau duduk di sana. Jagat lalu menatap mami. "Jagat serius, Mi." Dan saat itu maminya mengekor jejak papi, duduk di tempat semula. Jagat pun demikian. "Jadi, bantu Jagat lamarkan Seruni ke orang tuanya." Kali ini karena Jagat memilih Seruni, bukan sebab dipilihkan orang tua atau ditentukan atas dasar perjodohan. Waktu berlalu dan segalanya berubah. “Kalau kamu ulangi kesalahan yang sama ....” Pap

