Makan malam berlangsung dengan tenang di meja makan rumah Linda. Alin mencoba menyuap makanannya, meskipun hatinya masih berat. Linda, di sisi lain, sesekali tersenyum hangat dan berusaha membuat suasana lebih ringan dengan candaan kecil. “Davin kelihatan senang bermain di tempat itu. Aku senang akhirnya tempat bermain itu terpakai juga,” ujar Linda, melirik ke arah cucunya yang sedang bermain di ruang keluarga. Alin tersenyum tipis. “Iya, Ma. Dia memang suka main di tempat yang penuh warna.” Namun, ketenangan itu tiba-tiba terpecah ketika suara dering telepon terdengar dari ponsel Linda yang tergeletak di meja. Alin langsung menegang, menatap ponsel itu dengan waspada. Nama Arman muncul di layar, membuat suasana menjadi sedikit mencekam. Linda melirik Alin, mencoba membaca ekspresiny

