Suara tawa kecil Davin menggema di ruang keluarga apartemen sederhana milik Arman dan Alin. Anak mereka yang kini berusia tiga bulan semakin aktif dan cerewet. Davin duduk di pangkuan Alin, menggenggam mainan kecil berbentuk bintang yang berbunyi setiap kali digerakkan. Matanya yang bulat bersinar-sinar setiap kali Alin atau Arman mengajaknya bercanda. Di sofa, Arman memegang sebuah buku cerita anak-anak bergambar warna-warni. Ia membaca dengan penuh ekspresi, membuat suara-suara lucu yang membuat Davin tertawa keras. Alin ikut tersenyum sambil menyeka air liur Davin yang keluar karena tawa yang begitu riang. “Davin, lihat ini,” ucap Arman sambil menunjuk ilustrasi seekor kucing bersepatu bot di buku. “Kucing ini lucu sekali, ya? Sama seperti kamu!” Davin menatap ayahnya seolah-olah me

