Linda terdiam cukup lama, terlihat bingung dan terkejut. Tapi kemudian, perlahan, ia menghela napas panjang. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Ini sangat mengejutkan, tapi jika ini memang kenyataannya, aku tidak akan menolaknya. Bagaimanapun, Davin adalah cucuku.” Ia menatap Alin dengan lembut. “Dan kamu, Alin, aku tahu ini pasti sulit bagimu. Tapi aku berterima kasih karena telah memberikan kebahagiaan ini untuk Arman. Aku percaya kalian akan menjadi keluarga yang bahagia.” Air mata menggenang di mata Alin, tapi ia tersenyum lega. “Terima kasih, Tante. Terima kasih sudah menerima kami.” Linda berdiri dan mendekati Alin. Ia membelai kepala Alin dengan penuh kasih sayang, lalu mencium pipi Davin dengan senyuman. “Baiklah, Kalian harus sering-sering datang ke sini. Aku ingin lebih meng

