Arman memeluk Alin dari belakang, kedua tangannya bergerak ke bawah perut bulat Alin, sedikit menyangga dan mengangkatnya dengan lembut. Membuat Alin seketika tersenyum sambil merebahkan kepalanya di d**a Arman, memejamkan mata menikmatinya. “Kamu pasti lelah seharian ini, kalian para wanita lah yang memang menjadi terkuat di muka bumi, karena kami para pria belum tentu bisa menjalani masa kehamilan yang berat seperti yang kalian alami,” tutur Arman sambil mengajak Alin mengayun langkah dengan lembut seiring dengan alunan musik klasik yang mengisi suasana hangat malam ini. Alin tersenyum lalu menoleh, mendongak pada Arman yang lalu menunduk melabuhkan ciuman mesra di bibirnya. Mereka berciuman untuk beberapa saat, tanpa birahi dan hanya rasa cinta di antaranya. “Aku ingin memberikan per

