“Sudah, tidur lagi. Ini baru dini hari!” kata Arman, dengan lembut dia membantu Alin menaikkan kakinya. Alin tersenyum melihatnya. Arman sungguh perhatian dan menjaganya dengan penuh kelembutan. Mungkin memang benar jika dialah ayah kandung dari anak yang ada di rahimnya saat ini. Tapi Alin tak mau berspekulasi dan mengharapkan sesuatu yang belum tentu. Meski jujur saja, jauh di dalam hati dia juga mengharapkan demikian. “Di sini saja!” pinta Alin ketika Arman hendak beralih tidur di sisi lain ranjang. Arman termangu, dia tampak sedikit kikuk sambil tersenyum ragu. “Aku tidak mau mengganggu, lagipula tidurku juga nggak tenang, takutnya kamu kena tendang,” kekehnya malu-malu. Alin tersenyum gemas melihatnya, ditariknya tangan Arman sehingga lelaki itu pun terduduk di sampingnya. “Sebel

