Esok paginya, Linda kembali bersiap untuk pergi. Ia sudah berpakaian rapi dengan tas kerjanya di tangan. Sebelum keluar, Linda sempat menatap Alin yang duduk termenung di sofa ruang tamu. Televisi di depannya menyala, tapi jelas Alin tidak sedang menontonnya. Matanya kosong, pikirannya entah ke mana. “Alin, kamu yakin tidak apa-apa di rumah sendiri?” tanya Linda lembut, menghampiri menantunya. Alin tersentak dari lamunannya dan mengangguk pelan. “Iya, Ma. Aku tidak apa-apa. Davin juga masih tidur. Aku bisa mengurus semuanya.” Linda menghela napas, merasa sedikit khawatir meninggalkan Alin yang masih terlihat begitu rapuh. “Kalau ada apa-apa, telepon Mama, ya. Jangan ragu untuk minta bantuan.” “Iya, Ma. Hati-hati di jalan,” jawab Alin dengan senyum tipis yang dipaksakan. Setelah Linda

