Hari yang dinanti akhirnya tiba. Dokter mengizinkan Alin dan Davin untuk pulang ke rumah setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit. Arman tampak sibuk sejak pagi, memastikan semuanya berjalan lancar. Ia tidak ingin ada satu pun yang terlewat untuk kenyamanan Alin dan bayi mereka. “Sayang, semuanya sudah siap. Tinggal kita pulang,” ucap Arman dengan senyum hangat saat masuk ke kamar rawat Alin. Alin yang sedang duduk di ranjang dengan Davin di pelukannya, tersenyum kecil. “Terima kasih, Arman. Kamu sudah repot sekali.” Arman menggeleng sambil mendekat, memandangi Alin dengan penuh cinta. “Ini semua demi kamu dan Davin. Tidak ada yang lebih penting dari kalian.” Seorang suster datang dengan kursi roda. “Ibu Alin, mari kita bantu pindah ke kursi roda untuk menuju mobil.”

