Keheningan di ujung telepon terasa seperti bom waktu. Linda terdiam cukup lama hingga Arman bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ketika akhirnya Linda berbicara, suaranya terdengar penuh emosi. “Kenapa kamu tidak bilang apa-apa? Kapan ini terjadi?” “Mama, aku akan jelaskan semuanya. Tapi, tolong, beri aku waktu,” ucap Arman dengan penuh penyesalan. Linda menarik napas panjang di ujung telepon. “Baiklah, Arman. Tapi kamu tahu, Mama akan tetap ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan Mama akan tetap datang besok.” “Aku mengerti, Ma. Aku akan jelaskan nanti.” Setelah panggilan itu berakhir, Arman merasa beban yang dia pikul semakin berat. Dia menatap ponselnya yang kini diam di tangannya, lalu menghela napas panjang. Segalanya semakin rumit, dan dia tahu dia harus bersiap menghada

