Setelah menidurkan Davin di kamarnya, Arman dan Alin bisa lanjut menikmati waktu kebersamaan mereka sambil menonton televisi di ruang tengah. Berdua mereka bercanda riang sambil membahas nama untuk calon bayi mereka nanti. “Kalina? Atau Mentari?” kata Arman memberikan nama yang muncul di dalam pikirannya. Tapi Alin tampak cemberut dan menggeleng. “Yang terakhir kayak nama provider kartu jaman lama,” ujarnya lalu terkekeh geli sendiri. Arman pun tertawa. “Anak sekarang mana ada yang paham, Sayang!” katanya sambil mengusap tangan Alin di dalam genggamannya. “Iya, tapi kayak udah yakin kalau anak kita ini perempuan, baru juga segede kacang mete begitu!” gelak Alin sambil menyentuh perut ratanya. “Nggak tahu kenapa, rasanya aku yakin kalau adiknya Davin ini perempuan. Mungkin karena aku m

