Sofa panjang itu menjadi saksi bisu panasnya percintaan keduanya, Alin meremas sofa dan mendongak ketika merasakan puncaknya. Lalu menunduk untuk mengalihkan rasa nikmat itu dengan berciuman dengan Arman, yang sama tegang dan mengejang merasakan akhir dari pacuan birahi mereka berdua. “Oh, ibu hamilku selalu menggairahkan!” bisik Arman sambil memeluk erat Alin. Alin tersenyum, dia terkulai lemas di bahu Arman merasakan sisa-sisa birahi yang masih ada. Duduk dengan rapat di pangkuan Arman, membiarkan tubuh mereka saling berdenyut di bawah sana. “Kamu baik-baik saja, ‘kan, Sayang?” tanya Arman lembut membelai punggung Alin yang berkeringat. Alin mengangguk, dia lalu menegakkan kembali tubuhnya, tersenyum menatap Arman yang menyentuh perutnya yang masih rata itu. “Aku takut menyakitinya

