Alin terbangun mendengar tangisan Davin yang memecah keheningan pagi. Ia segera bangkit dari tempat tidur, meskipun tubuhnya masih terasa lelah. Dengan lembut, ia mengangkat Davin. “Lapar ya, Sayang?” bisiknya lembut sambil mendekap bayi itu ke dadanya. Tangisan Davin perlahan mereda begitu Alin mulai menyusuinya. Di sisi lain, Arman juga terbangun, mendengar suara Alin yang berbicara pelan dengan Davin. Ia mengusap wajahnya, lalu menoleh ke arah mereka dengan senyum kecil. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Arman dengan suara serak karena baru bangun. “Aku baik-baik saja. Davin cuma lapar,” jawab Alin sambil tersenyum. Setelah beberapa menit, Davin akhirnya selesai menyusu. Ia tampak puas, dengan senyum kecil di wajah mungilnya. Alin mendekap Davin, menepuk-nepuk punggungnya agar ia sendaw

