“Mas… hhh—” Tapi kalimat itu tak selesai. Tubuhnya kembali bergetar hebat, menggigil dari ujung kaki hingga leher, dan sensasi pecah yang datang membuat Dita melenguh panjang, tidak menjerit, tapi seperti isak tertahan dalam kenikmatan yang menghancurkan. Bram menunduk, mencium lehernya, menggenggam pinggul Dita erat-erat, dan menyatu lebih dalam lagi, hingga napasnya sendiri mulai putus. Suaranya keluar serak, tertahan di tenggorokan, “Dita… kamu... gila...” Dia mendobrak sekali lagi, lebih dalam, dan tubuh Dita kembali terangkat, mengerang, dengan mata berkaca, napasnya seolah dipaksa menyesuaikan dengan kerasnya ritme. Tak ada waktu untuk kata. Hanya tarikan napas, desah, dan tubuh yang gemetar hingga tak bisa lagi digerakkan. Dan ketika akhirnya Bram menahan tubuhnya, mencengkeram

