Berbagi Peluh-3

710 Kata

“Pak… Bapak…” Dengan terpincang-pincang, Dita menghampiri pintu, membuka perlahan. Cahaya dari lorong menyapu tubuhnya, sementara di balik pintu... Bram berdiri di sana. Berkeringat, hanya mengenakan celana boxer gelap. d**a bidangnya naik turun perlahan, masih basah oleh keringat yang mengilap di bawah cahaya lorong. Garis ototnya tegas, tajam, seperti ukiran yang dikerjakan dengan ketelitian Ilahi, bahu lebar, perut berotot, tulang selangka yang memikat, dan rahang yang tegang seperti sedang menahan sesuatu. “Kamu kenapa? Astaga, gelap gini.” “Gak tau, kaki aku keseleo lagi,” katanya cepat, tapi nadanya tetap tenang. “Jangan paksa berdiri,” ucap Bram, dan sebelum Dita bisa menolak, tubuhnya sudah terangkat dalam pelukan bridal. Tubuh Dita kaku, tangan reflek melingkar di leher pria

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN