Sudah tengah malam, Senja tidak dapat memejamkan mata. Ia duduk di atas tempat tidur. Sendirian. Baskara memang tidur di kamar Mirasih. Pria itu menjaga mamanya dari ketakutan yang terus-menerus dirasakan. Senja mencoba membaringkan badan agar dapat tertidur. Berulang kali ia membolak-balikkan badan ke samping, mencari posisi ternyaman untuk tidur. Namun, tiap kali mencoba, hasilnya tetap saja sama. Ia mendesah kasar sembari menatap langit-langit kamar. Baru saja termenung beberapa saat, Senja dikejutkan dengan suara dering ponsel yang memecah keheningan malam itu. Buru-buru Senja raih ponselnya dari atas nakas. Sejenak, ia lirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Kemudian, ia buka pesan singkat tadi. Sebuah nomor asing. [“Saya tunggu di belakang rumah mertua ka

