Pagi itu laut terlihat berbeda. Ombaknya bergulung lebih hidup, angin berembus lebih segar, dan langit bihru terbentang tanpa satu pun awan yang mengganggu. Giana berdiri di tepi pantai sambil menatap papan selancar di pasir dengan ekspresi campur aduk antara antusias dan gugup. “Mark…” panggilnya pelan. Mnark yang sedang berbicara dengan instruktur selancar langsung menoleh. “Kenapa?” “Aku yakin ini ide kamu yang agak gila,” gumam Giana sambil menatap papan itu seolah benda asing. Mark tertawa kecil, lalu mendekat. “Tenang. Aku di sini. Aku nggak akan biarin kamu kenapa-napa.” Giana menghela napas, lalu melipat kedua lengannya di depan d**a. “Kamu yakin aku bisa? Aku bahkan berenang aja kadang panik.” “Itu karena kamu mikir terlalu banyak,” jawab Mark santai. “Selancar itu soal nger

