Dengan langkah yang gontai dan tubuh yang terasa sangat lemas, Sera menyeret kakinya menuju kamar mandi. Ia menatap pantulannya di cermin—wajah yang dulu selalu ceria dan penuh cahaya kini tampak pucat pasi, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan bahkan oleh riasan paling tebal sekalipun. Tangannya secara naluriah turun ke arah perutnya yang masih rata, namun terasa berbeda. Ada sesuatu yang berdenyut di sana, sebuah rahasia yang ia bawa melintasi samudera, sebuah benih dari pria yang kini ia benci sekaligus ia rindukan hingga sesak d**a. "Kamu harus kuat, Sera. Demi dirimu sendiri," bisiknya pada bayangan di cermin, namun suaranya terdengar parau dan tidak yakin. Begitu ia melangkah keluar dari flat, udara dingin langsung menusuk pori-porinya. Sera mengenakan

