Kegelapan di lantai lima puluh gedung Valerius Group bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah entitas pekat yang seolah memiliki massa dan berat, menekan setiap inci ruangan hingga terasa kedap udara. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, hanya detak jarum jam dinding Patek Philippe yang bergema, memotong sunyi dengan ritme mekanis yang dingin—persis seperti denyut nadi pria yang duduk mematung di balik meja mahoni raksasa di pusat ruangan. Alaric tidak lagi membutuhkan rumah. Baginya, konsep "pulang" telah terkubur bersama ribuan foto yang ia hapus dan setiap jengkal aroma parfum melati yang kini ia anggap sebagai polusi bagi kewarasannya. Apartemen mewahnya yang dulu penuh dengan tawa renyah Seraphina kini hanyalah sebuah museum kegagalan yang ia kunci rapat-rapat, membiark

