Sepanjang hari, ia tidak beranjak dari kursinya kecuali untuk keperluan mendesak. Ia memonitor setiap departemen melalui layar monitor besar yang terpasang di dinding, memperhatikan pergerakan karyawannya seperti dewa yang dingin. Ia melihat mereka gemetar saat menerima instruksinya melalui email singkat yang tajam. Ia melihat mereka berlarian memenuhi target yang ia tetapkan tanpa toleransi. Alaric menikmati rasa takut yang ia sebarkan; baginya, rasa takut adalah satu-satunya bentuk loyalitas yang paling bisa dipercaya. Jika cinta bisa berkhianat, maka ketakutan akan memastikan semua orang tetap berada di jalur yang ia inginkan. Saat malam kembali menjelang, Alaric berdiri di depan jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta yang mulai menyala satu per satu. Di kejauhan, ia bisa meliha

