Gedung pencakar langit Valerius Group yang menjulang di jantung Sudirman seolah-olah telah berubah menjadi sebuah menara pengawas yang dingin, sebuah struktur monolitik yang mencerminkan kondisi mental penghuninya di lantai paling atas. Alaric tidak lagi memimpin perusahaan; ia memerintahnya dengan tangan besi yang tidak mengenal kompromi. Sejak fajar menyingsing hingga jauh melewati tengah malam, suasana di kantor pusat tidak pernah lagi merasakan kehangatan manusiawi. Setiap langkah kaki yang bergema di lorong-lorong kaca terasa seperti derap sepatu bot militer, dan setiap memo yang keluar dari ruang kerja sang CEO adalah perintah mutlak yang tidak menyediakan ruang untuk diskusi. Kediktatoran Alaric telah dimulai, dan Jakarta mulai gemetar di bawah bayang-bayangnya. Setelah pengusiran

