Saat ia berjalan menuju mobilnya di area valet, Alaric menatap langit malam yang mendung. Ia merasa puas dalam kehampaannya. Penolakan brutal yang ia lakukan tadi memberinya rasa kontrol yang ia dambakan. Ia merasa kuat saat melihat wanita-wanita itu hancur oleh kata-katanya, karena di dalam benaknya, setiap air mata yang jatuh dari pipi mereka adalah pembalasan dendam kecil untuk pengkhianatan yang dilakukan Sera padanya. Ia masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan bunyi tumpul yang memisahkan dirinya dari dunia luar sekali lagi. "Ke kantor, Marco," perintahnya singkat. "Tuan, ini sudah hampir tengah malam. Anda tidak ingin pulang ke apartemen?" tanya Marco dari kursi depan. "Sudah kubilang, ke kantor," ulang Alaric dengan nada yang tidak memberikan ruang untuk bantahan kedua kali

