"Kamu pikir kamu masih punya tempat di sini, Sera?" bisik Alaric, suaranya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. "Kamu pikir aroma murahmu ini bisa membuatku merangkak kembali? Kamu salah besar." Ia menjatuhkan pemantik yang masih menyala itu tepat ke atas gumpalan syal sutra di dalam tempat sampah. Dalam hitungan detik, api mulai menjilat kain mahal tersebut. Sutra yang mudah terbakar itu segera menghitam dan mengerut, mengeluarkan asap tipis yang berbau vanilla yang terbakar—sebuah aroma yang memuakkan, seperti bunga yang membusuk di tengah api. Alaric tidak menjauh. Ia justru membungkuk, menatap api itu dengan intensitas yang mengerikan. Ia ingin melihat setiap serat kain itu hancur. Ia ingin melihat warna krem itu berubah menjadi abu hitam yang tidak lagi memiliki bentuk. Ap

