Sisa-sisa ketegangan dari jamuan makan malam privat di kediaman Dirgantara semalam masih terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokan Alaric Valerius. Sepanjang malam itu, setelah ia pulang dengan tangan yang mencengkeram kemudi hingga memutih, Alaric tidak bisa memejamkan mata. Bayangan kaki Sera yang merayap di bawah meja, tepat di depan mata ayahnya sendiri, terus menghantui setiap detik tidurnya yang singkat. Namun, waktu tidak memberinya kesempatan untuk memproses rasa bersalah itu. Malam ini, mereka sudah berada di tempat yang berbeda, di bawah sorotan lampu yang jauh lebih kejam: Gala Dinner Tahunan Asosiasi Pengusaha Asia. Jika semalam adalah siksaan dalam keheningan rumah, maka malam ini adalah penghakiman di depan publik. Sebelum Alaric melangkah masuk ke aula megah Gr

