Aula utama Grand Ballroom Jakarta malam itu adalah perwujudan dari kemewahan yang dekaden, sebuah istana cahaya yang dibangun dari ribuan kristal yang menjuntai rendah, memantulkan kilau emas pada lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Di bawah naungan langit-langit setinggi sepuluh meter yang dihiasi lukisan fresco bergaya Renaisans, kerumunan elit Jakarta bergerak seperti bidak-bidak catur yang dipoles sempurna. Wangi parfum desainer yang menyesakkan, aroma cerutu Kuba yang menguap dari ruang tunggu, serta uap sampanye mahal memenuhi atmosfer, menciptakan sebuah gelembung pretensi yang biasanya dikuasai oleh Alaric Valerius dengan ketenangan seorang predator puncak. Namun, malam ini, Alaric merasa seolah-olah udara di ruangan itu telah diubah menjadi timah cair yang berat

